KlikJurnal.Com, KONAWE – Di balik rimbunnya Kecamatan Padangguni, sebuah wilayah yang terletak di ujung Kabupaten Konawe, semangat syiar Islam tetap menyala hebat. Adalah Taman Pengajian Al-Qur’an (TPQ) Al-Huda di Desa Langgea yang menjadi saksi bisu perjuangan literasi Al-Qur’an selama lebih dari 30 tahun.
Berdiri sejak tiga dekade silam, TPQ Al-Huda bukan sekadar tempat mengaji tradisional. Lembaga ini telah bertransformasi menjadi institusi pendidikan non-formal yang dikelola secara profesional dengan visi, misi, serta kurikulum yang terstruktur.

Lebih dari Sekadar Baca Tulis
Saat ini, TPQ Al-Huda membina sedikitnya 80 santri dengan dukungan 6 tenaga pengajar (ustaz/ustazah). Fokus pendidikannya pun komprehensif, mulai dari dasar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), Tartil, Tahsin, hingga Tilawah.
Pengasuh TPQ Al-Huda menyampaikan bahwa pengelolaan yang baik adalah kunci pembinaan umat. “TPQ jika dikelola dengan serius akan menjadi pilar utama dalam membangun karakter generasi muslim, khususnya dalam penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an,” ujarnya saat ditemui tim di lokasi.

Kemah Santri: Melatih Mandiri dan Menampilkan Prestasi
Salah satu terobosan unik dari TPQ ini adalah penyelenggaraan Kemah Santri dan Pengajian Akbar.
Pengajian Akbar, Menjadi ajang syiar sekaligus mempererat silaturahmi antara pengelola, wali santri, dan masyarakat luas.
Kemah Santri: Menjadi wadah melatih kemandirian sejak dini. Di sini, para santri unjuk gigi dalam berbagai lomba seperti seni grafis, azan, tartil, hingga tilawah sebagai laporan nyata hasil belajar kepada orang tua.
Tantangan Ruang: Menanti Uluran Tangan Donatur
Meski memiliki semangat yang meluap, TPQ Al-Huda kini menghadapi tantangan infrastruktur. Dengan jumlah santri yang terus bertambah, bangunan musala berukuran 12×12 meter sudah tidak lagi memadai untuk menampung 5 kelas pembelajaran.
Sebagai solusi kreatif, pihak pengelola berinisiatif membangun gazebo belajar berukuran 4×6 meter. Saat ini, baru satu unit gazebo yang berhasil dibangun.
”Kami sangat berharap adanya partisipasi masyarakat dan donatur. Saat ini kami sangat membutuhkan tambahan gazebo agar tempat belajar santri putra dan putri dapat dipisahkan demi kenyamanan dan efektivitas belajar,” tambah sang Pengasuh.
Selain kebutuhan ruang kelas, pengelola juga berharap adanya perhatian terhadap kesejahteraan para pengajar (ustaz/ustazah), fasilitas belajar yang lebih modern, serta penguatan legalitas kelembagaan.
Bagi masyarakat yang ingin berinvestasi akhirat dan mendukung perjuangan pendidikan di ujung Konawe ini, pintu donasi dan kolaborasi terbuka lebar demi lahirnya generasi qur’ani dari Desa Langgea.
Laporan: Bagas











