KENDARI — Rabu 9 /9/2026. Seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Kendari, Meri Saputri mengaku mengalami kekerasan saat mengikuti kegiatan pengkaderan anggota penuh yang dilaksanakan di lingkungan kampus, tepatnya di sekretariat UKM Seni.
Kegiatan tersebut berlangsung selama satu hari satu malam. Tanggal 6 September 2026. Menurut keterangan Meri, kejadian yang diduga mengandung kekerasan terjadi saat pelaksanaan jurit malam sekitar pukul 01.00 WITA.
Meri menuturkan, dirinya bersama peserta lainnya dibangunkan oleh salah seorang senior berinisial FD untuk mengikuti kegiatan jurit malam dengan melewati sejumlah pos yang telah disiapkan panitia.
Di pos pertama, Meri mengaku diperintahkan masuk ke dalam comberan dan mencuci muka dengan alasan agar tidak mengantuk. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya.
Saat berada di pos kedua, Meri mengaku diperintahkan mengunyah gabing yang dicampur garam dan gula hingga halus, kemudian campuran tersebut dioleskan ke wajahnya.
Kegiatan berlanjut ke pos ketiga. Menurut Meri, dirinya diminta memegang termos sambil menyanyi karena sebotol minuman telah habis.
Ia kemudian mengaku diminta memanggil seorang senior berinisial GSK dengan ucapan tertentu. Meri menyebut GSK kemudian marah dan berlari menghampirinya, namun sempat ditahan oleh senior lainnya.
Meri kembali mengaku diperintahkan mengonsumsi gabing yang dicampur garam. Setelah itu, ia menyebut seorang senior meletakkan pel yang basah di atas kepalanya dan meminta dirinya mencium ketiak senior tersebut sebanyak tiga kali.
Meri juga mengaku dipaksa memakan cabai. Ketika dirinya mengatakan pedas, menurut keterangannya, ia diberikan pilihan antara memakan cabai atau melakukan tindakan lain yang membuatnya tidak nyaman. Meri akhirnya mengaku memakan cabai tersebut.
Setelah itu, ia mengaku diperintahkan menempelkan wajahnya ke abu sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya.
Di pos keempat, Meri mengatakan dirinya diminta menjawab pertanyaan mengenai kehadirannya di sekretariat. Ia mengaku sempat menjelaskan bahwa dirinya jarang datang karena aktivitas keluar rumah dibatasi.
Namun, menurut pengakuannya, senior bernama S kemudian menamparnya berkali-kali menggunakan sandal tebal berwarna pink.
Meri juga mengaku kembali mendapat perlakuan fisik saat diminta menjawab pertanyaan mengenai seni tari. Ia menyebut dahinya beberapa kali disentil karena jawaban yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan keinginan senior.
Meri mengaku sempat menangis, tetapi perlakuan tersebut tetap berlanjut.
Selanjutnya, di pos kelima, Meri mengaku diperintahkan berbaring di atas selokan. Ia mengatakan tubuhnya terasa sakit karena terdapat banyak semut di lokasi tersebut.
Saat dirinya menggaruk bagian tubuh yang terkena semut, ia mengaku ditegur dan diminta bangun. Setelah itu, Meri dibawa ke samping sebuah mobil dan ditanya mengenai kesalahannya.
Meri mengaku menjawab bahwa dirinya mendapat perintah dari senior untuk berteriak kepada GSK. Setelah memberikan jawaban tersebut, ia mengaku ditampar keras menggunakan sandal berwarna hitam sebanyak lima kali.
Menurut Meri, tamparan terakhir membuatnya terduduk di samping mobil sambil menangis. Ia mengaku merasakan sakit pada bagian dada. Seorang senior kemudian memberikan air mineral kepadanya dan memintanya menenangkan diri sebelum melanjutkan kegiatan.
Di pos keenam, Meri mengaku kembali diminta berbaring. Saat sedang menjalani pertanyaan, SP disebut datang dan menanyakan identitas Meri menggunakan nama lapangannya, Chura.
Meri mengaku setelah itu kakinya ditendang sebelum senior tersebut meninggalkan lokasi.
Sementara di pos ketujuh hingga pos kesepuluh, Meri menyebut tidak lagi mengalami kekerasan fisik. Di salah satu pos, ia hanya diminta berbaring di dalam got yang kondisinya kering. Ia juga mengaku sempat diminta berjalan jongkok sebelum melanjutkan ke pos berikutnya.
Peserta kemudian diperbolehkan pulang sekitar pukul 08.00 WITA.
Setibanya di rumah, Meri mengaku sempat menelepon ibunya, tetapi tidak menceritakan kondisi yang dialaminya, termasuk rasa sakit pada telinga akibat tamparan serta benjolan di bagian dahi.
Meri kemudian tidur dan terbangun sekitar pukul 16.00 WITA. Saat itu, ia mengaku rasa sakit semakin terasa hingga membuatnya menangis.
Pada malam harinya, Meri kemudian menghubungi ayahnya dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Sang ayah kemudian meminta Meri melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.
Meri selanjutnya mengaku membuat laporan ke Polda Sulawesi Tenggara. Saat proses pelaporan berlangsung, seorang pendamping kemudian mengantarnya ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani pemeriksaan dan visum.
Kasus tersebut kini diharapkan dapat ditangani secara profesional oleh pihak berwenang untuk memastikan rangkaian kejadian serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Keterangan mengenai dugaan kekerasan tersebut masih merupakan pengakuan dari Meri Saputri Salah dan media berusaha untuk konfirmasi kepada pihak kampus, panitia pengkaderan, serta para senior yang disebut dalam kronologi.
Laporan:Manto











